Please reload

Recent Posts

Setahun Rata-rata Terjadi Gempa 6.000 Kali di Indonesia Tapi Minim Konstruksi Tahan Gempa

24 Jan 2018

Jakarta,  Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menyatakan, banyaknya rumah rusak akibat gempa itu antara lain akibat minimnya konstruksi penahan gempa.

 

Menurut dia, konstruksi bangunan tahan gempa adalah kebutuhan yang mutlak di wilayah Indonesia khusus di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

 

 

 

 

Namun kenyataannya masih sangat minim rumah dan bangunan yang dibangun secara khusus untuk mampu menahan gempa. Akibatnya, setiap terjadi gempa dengan kekuatan cukup besar banyak kerusakan bangunan, bahkan menimbulkan korban jiwa.

 

Misalnya, dia menuturkan, dampak gempa 6,9 SR pada 15 Desember 2017 lalu menyebabkan empat orang tewas, 36 orang luka, 8.860 rumah rusak (1.160 rusak berat, 1.950 rusak sedang, 5.750 rusak ringan), 99 sekolah rusak, 67 tempat ibadah dan bangunan lain rusak.

 

Kerugian dan kerusakan akibat gempa itu mencapai Rp 250,76 miliar, di mana Rp 228,62 miliar adalah kerusakan dan kerugian di sektor permukiman. Untuk pemulihannya memerlukan Rp 152,5 miliar. "Korban jiwa bukan karena gempanya, tapi karena bangunannya," jelas dia.

 

Sutopo berujar, bangunan yang tidak kuat saat terjadi gempa akan roboh dan menimpa penghuninya. Gempa adalah keniscayaan. Dalam setahun rata-rata kejadian gempa di Indonesia mencapai 6.000 kali.

 

Begitu juga gempa di selatan Jawa yang merupakan zona sepi gempa besar. Zona selatan Jawa khususnya dari segmen Pangandaran hingga Pacitan dan Banyuwangi adalah zona seismic gap.

Lempeng Indo Australia dan Eurasia di selatan Jawa itu aktif bergerak rata-rata dengan kecepatan 6,6 sentimeter per tahun. "Ratusan tahun tanpa gempa besar, sehingga energinya terkunci. Artinya ada potensi yang besar," urainya. 

 

sumber : tribunnews.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us
Please reload

Search By Tags