Please reload

Recent Posts

31 Pekerja Dieksekusi KKSB, Proyek Jembatan Trans Papua Dihentikan

5 Dec 2018

Pembantaian 31 pekerja konstruksi jembatan

 

Jembatan Kali Aorak (KM 102+525) dan Jembatan Kali Yigi (KM 103+975) di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua adalah cobaan berat bagi progres pembangunan infrastruktur Jalan Trans Papua.

 

Meski demikian, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menegaskan bahwa proyek pembangunan infrastruktur akan terus berlanjut. “Pembangunan akan jalan terus demi memberikan keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia,” tegas Basuki dalam konferensi pers di Jakarta kemarin (12/4).

 

Akan tetapi, sesuai dengan rekomendasi TNI dan Polri, PUPR memutuskan untuk menghentikan sementara semua pekerjaan konstruksi jembatan di seluruh segmen 5 mulai dari Wamena–Habema–Mugi-Kenyam–Batas Batu–Mumugu. Panjang segmen 5 Adalah 278,6 km.

 

“Seluruh pekerjaan kami hentikan, dari Mamugu sampai Wamena,” katanya.

Basuki mengaku terkejut dan menyampaikan duka sedalam-dalamnya untuk para korban. Para pekerja berasal dari 2 BUMN karya yang kebagian membangun 35 buah jembatan sepanjang Trans Papua Segmen 5 mulai dari Wamena sampai Mamugu. Yakni PT Istaka Karya, dan PT Brantas Abipraya.

 

Dari 35 jembatan, 14 jembatan dikerjakan oleh PT Istaka Karya dengan nilai kontrak Rp 184 miliar. Dari 14 jembatan, 11 sedang dikerjakan. Sementara sisanya akan mulai dibangun pada tahun 2019.

 

Sementara itu, 21 jembatan dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya dengan nilai kontrak Rp 246,8 miliar. Progresnya 5 jembatan sudah selesai (Jembatan Gat III, Gat II, Arwana, Merek dan Wusi).

 

Sedangkan 9 jembatan sedang dalam proses konstruksi yakni Jembatan Kali Kotek I, Kali Wolgilik, Kali Jun, Kali Labi, Kali Abeak, Kali Simal, Kali Moit, Kali Dumit dan Kali Rora). “Jalan ini (segmen 5,Red) sudah tembus. Tapi tidak sempurna karena menunggu 35 jembatan ini,” jelas Basuki.

 

Basuki mengatakan, bahwa area-area proyek yang dikerjakan oleh PT Iskaka Karya dinilai dan dinyatakan aman. Justru area-area proyek yang dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya –lah yang dinilai tidak aman.

 

PT Brantas baru mengerjakan 5 jembatan. Namun, sejak 4 bulan yang lalu, pengerjaan kelima jembatan tersebut dihentikan karena adanya korban/gangguan keamanan yang serius. ”Sampai sekarang, tidak dikerjakan. Terakhir saya kunjungan kerja konsulatasi sama Pangdam belum ada rekomendasi,” kata Basuki.

 

Basuki mengatakan tidak ada penolakan dari warga terhadap pembangunan jembatan-jembatan ini. Warga sekitar justru sudah menanti-nantikan kehadiran Jalan Trans Papua. Jalan ini akan menjadi menjadi jalur terdekat dari Pelabuhan Mumugu dengan penduduk di kawasan Pegunungan Tengah yang selama ini cuma bisa dijangkau lewat udara.

 

“Sekarang biaya logistik sudah mulai turun,” katanya.

Basuki menyebut sosialisasi Istaka kepada warga sekitar sangat bagus. “Bahkan, Menurut info yang saya terima dari Kepala Balai Pelaksana Jalan Trans Papua, warga sendiri yang menjamin keamanan pekerjaan tersebut,” katanya.

 

Tanpa adanya jembatan, kata Basuki, para pengguna jalan harus melintas sungai pada ruas ini. Saat ini progres pembangunan 35 jembatan tersebut sudah selesai 70 persen.

 

Dirut PT. Istaka Karya Sigit Winarto sampai berita ini ditulis belum menyebutkan berapa jumlah korban pekerja. Menurut catatan perusahaan, ada 28 pekerja di dua lokasi Yigi dan Aorak. Rata-rata pekerja berasal dari Sulawesi Selatan. Meliputi teknisi dan pekerja.

 

”Jumlah yang pasti masih kami koordinasikan. Karena sampai sekarang info yang kami punya korban belum bisa dievakuasi dari lokasi,” katanya.

Sigit membenarkan bahwa dirinya juga menerima informasi soal 2 orang yang selamat dengan cara kabur. Namun, sekali lagi masih belum terkonfirmasi. Sigit mengatakan bahwa perusahaan akan memberikan santunan sepenuhnya. Pekerja juga sudah diikutkan program BPJS Ketenagakerjaan. Namun, nilai kompensasinya belum dipastikan.

Sebelumnya, Sigit mengatakan bahwa sempat ada beberapa gangguan keamanan. Namun, relatif bisa secepatnya diselesaikan dengan negosiasi melibatkan warga lokal. “Satu dua kali kesempatan kami balik dulu ke Wamena. Cari solusi, lalu kembai ke lokasi melanjutkan pekerjaan kembali,” katanya.

Para pekerja dan teknisi di lapangan sudah dibekali dengan telepon satelit. Namun, hingga saat ini tidak bisa dihubungi. Kedepan, PT. Istaka masih menunggu arahan dari aparat keamanan untuk melanjutkan pekerjaan

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us