Please reload

Recent Posts

Lokasi Kota Baru Semarang Diperhitungkan Rawan Longsor

9 Nov 2018

L

 

OKASI perencanaan kota satelit (yang oleh pemda Kodya Semarang diistilahkan sebagai kota baru) di Desa Meteseh dan Rowosari (Kecamatan Semarang Selatan) serta cadangan tanah Perum Perumnas yang terletak di lokasi yang sama, ternyata merupakan daerah rawan longsor.

 

Daerah tersebut di atas disebut zona patahan (sesar) Pengkol. Zona selebar tiga kilometer itu, membujur dari Meteseh - Bulusan- Mangunharjo hingga pantai utara Semarang.

 

Di samping itu Kecamatan Mijen Kodya Semarang yang direncanakan untuk pembangunan kota satelit, juga tergolong rawan longsor. Patahan itu, disebabkan oleh gerakan tanah dari arah utara dan selatan, akan mengakibatkan patahnya lapisan batuan breksi di bagian atas.

 

Sedangkan batuan clay yang terletak di bawahnya, mengalami milonitisasi (hancur dalam bentuk butir-butir kecil). Demikian diungkapkan pakar geologi Ir Joenoes Mukti, Kamis kemarin, menjawab pertanyaan Suara Merdeka mengenai struktur stratigrafi batuan di wilayah Kodya Semarang. Zona patahan di Mijen merupakan satu rangkaian dengan jalur jalan tol Jatingaleh - Krapyak dan kompleks perguruan tinggi swasta di Bendan Nduwur.

 

Selai daerah tersebut, di ibukota Jateng ini terdapat pula daerah patahan besar, yaitu zona patahan Kalipancur formasi Kalibiyuk, yang memanjang dari Kaligarang, Manyaran sampai ke pantai utara (sekitar PTirang / sebelah utara Taman Lele).

 

Patahan yang lain terletak di perbukitan Gombel dan sebagian kawasan perumahan elite Bukitsari. Daerah tersebut termasuk rangkaian patahan Bendan yang cukup rawan. “Dengan demikian, seyogyanya sekitar perbukitan itu harus dikosongkan atau bebas dari bangunan”, kata alumnus Fakultas Teknik Geologi UGM itu.

 

Ditambahkan patahan sepanjang jalur daerah Sky Garden (Gombel), Tinjomoyo, Kalipancur (Kecamatan Semarang Selatan) terus menyusuri Sungai Kripik hingga ke pantai utara merupakan daerah rawan dengan adanya resiko sliding. Artinya longsor bukit akibat lapisan batuan mendapat lubrikasi air hujan. Resiko itu bertambah jika ada gerakan lempeng (plate) tektonik.

 

Di sepanjang jalan perbukitan Gombel, dapat diamati adanya singkapan (outdrop) batuan yang dapat menjadi bidang gelincir jika dalam keadaan “jenuh” air. Dosen Jurusan Sipil Fakultas Teknik Untag Semarang ini menambahkan daerah rawan di atas sebenarnya tidak tepat untuk pembangunan rumah atau jalan dengan konstruksi biasa, karena mempunyai resiko tinggi untuk longsor atau mendatan (tergelincirnya batuan).

 

Peristiwa longsornya Bukit Gombel (tahun 1973) dan bahu jalan tol Krapyak - Jatingaleh (tahun 1987), lanjutnya, karena bukit mendapat beban air hujan. Sedangkan pada batuan paling bawah tidak dapat meneruskan air (non permeable), sehingga menjadi bidang gelincir bukit di atasnya (lubrikasi). Ditambahkan, Indonesia cenderung rawan longsor, karena termasuk dalam formasi pertemuan lempeng Asia dan Australia (termasuk di dalamnya Oceania).

 

Kurang Perhatian

Sementara itu pakar konstruksi bangunan lanjutan Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Undip, Ir Bambang Pranoto dalam keterangannya secara terpisah mengatakan, rencana pembangunan kompleks perumahan yang cukup besar, nampaknya masih kurang memperhatikan potensi wilayah.

 

Dalam arti, ada kecenderungan untuk mencari tanah murah tanpa mempertimbangkan kelemahan atau masalah yang mungkin timbul, misalnya menyangkut banjir, longsor, dan sebagainya. Padahal sebenarnya harga tanah yang murah mengingat kondisinya yang jelek ini akan dibayar mahal konsumen.

 

Karenanya developer seharusnya jangan menjanjikan harga rumah yang murah, tetapi nantinya konsumen harus menanggung biaya perawatan atau perbaikan.

Di samping berbahaya bagi keselamatan penghuni, pembangunan di lokasi rawan longsor atau banjir, akan memperpendek sumur bangunan.

 

Dimisalkan, sebagai konstruksi pondasi dan dinding akan rusak jika selalu tergenang air. Diakui, selama itu uji kekuatan bahan bangunan selalu dilakukan dalam keadaan kering dan bukan untuk menghadapi resiko tanah longsor. 

 

sumber : https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/143209/lokasi-kota-baru-semarang-diperhitungkan-rawan-longsor

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us