Please reload

Recent Posts

Pecah Kepadatan Pantura

6 Nov 2017

Pembangunan Tol Pemalang-Batang dan Batang-Semarang

 

Pembangunan jalur tol ruas Pemalang-Batang dan Batang-Semarang yang menjadi bagian Tol Trans-Jawa diyakini memecah kepadatan lalu lintas di jalur pantai utara. Tol Trans-Jawa ditargetkan menyambung dari Jakarta hingga Surabaya, selambatnya akhir 2018. ”Proyek Tol Trans-Jawa ini penting. Untuk itu, pemerintah selalu memantau melalui Direktorat Jenderal Bina Marga. 

 

Monitoring juga untuk mengetahui kendala ataupun penyelesaian terkait pembangunan tol. Tol Trans-Jawa sampai Surabaya diharapkan selesai akhir 2018,” ungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Minggu (5/11). Hal itu dikatakan saat meninjau proyek Tol Trans-Jawa di Jambu, Kabupaten Pekalongan, dan Krapyak, Kota Semarang.

 

Dalam peninjauan, Basuki didampingi Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi M, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna, dan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) VIII Hery Marzuki.

 

Menurut Basuki, Tol Brebes-Semarang diyakini memecah kepadatan arus kendaraan di jalur pantura. Menurut dia, Tol Trans-Jawa akan tersambung hingga Surabaya, Jawa Timur, lewat Solo-Ngawi.

 

Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur ini akan memperlancar arus lalu lintas dan pengangkutan logistik di Pulau Jawa. Dia menjelaskan, kemajuan pembangunan jalan tol dari Pemalang-Batang sepanjang 39,2 kilometer (km) dan Batang-Semarang sepanjang 75 km sudah mencapai 56 persen. Pengerjaan jalur tersebut terus dikebut karena diharapkan dapat beroperasi secara fungsional pada arus mudik Lebaran, Juli 2018.

 

Penanganan khusus

Diakui Basuki, pada jalur ini, ada sejumlah ruas yang memerlukan penanganan khusus. Di ruas Pemalang-Batang, misalnya, ada bagian tanah yang kritis sepanjang sekitar 25 km. Ruas itu memerlukan perlakuan teknis khusus agar dipastikan saat beroperasi, badan jalan dapat dilalui pengendara dengan nyaman. Selain itu, kata Basuki, sebagian tanah yang nantinya akan dibangun jalan tol kondisinya lunak sehingga perlu perbaikan.

 

Untuk itu, harus dilakukan proses vakum guna menghilangkan kadar airnya. Metode itu dikenal dengan vacuum consolidation method (VCM). Mengantisipasi pekerjaan teknis itu, diterapkan sistem drainase vertikal melalui perforated vertical drain (PVD). ”Ada lahan yang perlu penanganan teknis berbeda dibanding ruas lain. Lahan di sini mulai digarap 15 Februari, kemudian dilakukan penimbunan untuk badan jalan,” ujar Basuki. Pemadatan tanah dilakukan akibat lembeknya daya dukung lahan di jalur tersebut. Tercatat, setiap 10 hari, terjadi penurunan tanah sedalam 2 milimeter di ruas itu. Penanganan khusus dibutuhkan supaya tanah stabil sehingga siap dibuat badan jalan.

 

BUMN dan swasta

Di proyek Tol Pemalang-Batang, Basuki menjelaskan, PT Waskita Karya selaku pelaksana pembangunan jalan tol menggandeng pihak swasta, PT Sumber Mitra Jaya (SMJ). Ini konsorsium perusahaan BUMN dan pihak swasta yang pertama kali dalam proyek jalan tol. ”Kami berharap pihak swasta bekerja dengan baik. Tidak manja, punya performa yang bagus supaya tidak inferior,” katanya.

 

Terkait kendala pembebasan lahan warga, Basuki mengakui, pada setiap proyek jalan, akan selalu ada. ”Wajar kalau pemilik tanah membela miliknya, tapi yang penting pemerintah memberi ganti untung,” katanya. Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna memaparkan, proyek ruas Tol Pemalang–Batang menelan investasi Rp 6 triliun. Diharapkan, Juli 2018, ruas ini dapat dioperasikan fungsional untuk menopang arus mudik. ”Tidak lagi jalan tol darurat. Melainkan benar-benar jalan tol fungsional untuk memperlancar arus kendaraan pemudik ke Jawa Tengah,” ungkap Herry.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us